Oleh: Izzah Annisatur Rahma

Kasus kekerasan seksual (sexual abuse) dewasa ini tidak hanya banyak menimpa remaja, namun sudah menimpa anak-anak. Salah satu kasus yang sempat muncul di media adalah kekerasan seksual yang dialami oleh beberapa siswa di Jakarta International School (JIS). Kasus ini menyita banyak simpati dari publik. Bagaimana tidak, kekerasan ini diduga dilakukan oleh beberapa oknum yang merupakan guru dan karyawan di sekolah tersebut. Namun, kasus ini hanyalah satu dari beragam kasus kekerasan seksual lainnya. Fenomena sexual abuse layaknya gunung es yang hanya nampak sebagian kecil saja di permukaan. Meskipun telah banyak kasus kekerasan seksual yang dilaporkan, namun diduga masih terdapat lebih banyak lagi kasus kekerasan yang belum diketahui.

Merujuk pada APA (American Psychological Association), kekerasan seksual pada anak merupakan paksaan yang dialami anak-anak untuk melakukan hubungan seksual. Namun, bentuk kekerasan seksual pada anak tidak terbatas hanya pada ajakan seseorang untuk melakukan hubungan seksual saja, namun juga memperlihatkan aktivitas seksual atau menyentuh bagian-bagian tubuh anak.

Kekerasan seksual pada anak akan menimbulkan dampak yang cukup signifikan. Dampak yang muncul dapat berupa gangguan psikologis, perkembangan anak yang terhambat, hingga mengubah kepribadian anak. Anak korban kekerasan seksual dapat mengembangkan perasaan tidak berharga pada dirinya. Sehingga, anak akan membatasi interaksi dengan lingkungan sosialnya.

Untuk mengatasi dampak tersebut, diperlukan dukungan dari berbagai pihak. Orangtua dan keluarga adalah pihak utama yang dapat memberikan dukungan pada anak korban kekerasan seksual. Bagaimana membangun kedekatan dengan anak akan menjadi kunci kembalinya kepercayaan anak. Dengan membangun kedekatan, anak akan merasa bahwa dirinya masih diterima dan berharga di mata orang-orang terdekatnya. Di samping itu, pendampingan psikolog juga sangat diperlukan. Psikolog bertujuan untuk membantu anak mengatasi beragam gejala psikologis akibat kekerasan seksual yang dialaminya. Selain itu, psikolog juga berperan dalam membantu anak kembali berada di lingkungan sosialnya. Sehingga, anak akan lebih percaya diri dan dapat mengatasi ketakutannya ketika bersosialisasi dengan orang lain.

Berbagai upaya mengatasi dampak kekerasan seksual pada anak dirasa kurang cukup untuk mengatasi fenomena ini. Perlu adanya tindakan preventif yang dilakukan untuk mencegah terjadinya kasus kekerasan seksual pada anak. Harapannya, tindakan preventif ini akan menekan timbulnya kasus-kasus kekerasan seksual pada anak lebih banyak lagi.

Selama ini, pendidikan seksual dinilai sebagai hal yang tabu, khususnya pada anak-anak. Padahal, pendidikan seksual sejak dini sangat diperlukan untuk melindungi anak dari kejahatan seksual yang saat ini mulai marak. Pendidikan seksual pada anak dapat diajarkan mulai tahap anak-anak awal. Pendidikan ini dapat diterapkan secara bertahap tergantung dengan kemampuan kognitif, kemampuan fisik, serta usia anak tersebut. Salah satu hal yang dapat disampaikan pada anak ketika mereka masih dalam tahap usia sangat dini adalah mengenalkan bagian-bagian tubuh yang mereka miliki. Selain itu, orangtua dapat mengajari anak untuk berkata “tidak” apabila ada orang lain selain orangtua atau pengasuhnya yang menyentuh bagian intim dari tubuhnya. Terlihat seperti hal sepele, namun bekal tersebut dapat menyelamatkan anak-anak dari ancaman penjahat seksual.

Akan tetapi, banyak orangtua yang masih merasa malu atau tidak nyaman apabila menjelaskan pendidikan seksual sejak dini. Kuncinya lagi-lagi ada pada kelekatan yang dibangun antara orangtua dengan anak. Kelekatan yang sehat akan membuat anak merasa nyaman berbagi atau menanyakan sesuatu yang ingin mereka ketahui. Anak-anak juga akan lebih leluasa bertanya ketika mereka merasa penasaran tentang apa itu seks, karena rasa penasaran anak tidak akan bisa dibendung, lebih-lebih dengan derasnya alur informasi saat ini. Jika anak mulai tertarik dengan pembahasan mengenai seks, bantulah anak untuk memahaminya dengan sederhana namun tepat. Sesuaikan bahasa dalam penyampaian informasi dengan kemampuannya mereka dalam mengolah informasi. Sehingga, anak-anak akan memahami dengan tepat apa yang dimaksudkan orangtuanya.

Di masa teknologi menjadi bagian hidup dari setiap manusia seperti sekarang ini memang sulit untuk mengatasi permasalahan kekerasan seksual pada anak. Karena, salah satu pintu untuk dapat masuk ke dalam lingkaran ini salah satunya adalah teknologi itu sendiri. Namun, bukan berarti bahwa kekerasan seksual pada anak tidak dapat diatasi. Mulailah berbagi informasi dengan orang-orang di sekitar kita, terlebih informasi mengenai bagaimana mencegah kekerasan seksual terjadi pada anak. Lindungi dan cintai anak-anak di sekitar kita dengan peduli terhadap rasa ingin tahunya. Selain itu, tetaplah menjalin komunikasi dengan korban-korban kekerasan seksual semampu kita. Mereka juga manusia yang patut untuk berhubungan dengan lingkungan sosialnya sama seperti orang lain.