Oleh: Muhammad Abdul Fikri

Bullying telah menjadi salah satu penyakit yang menjangkit masyarakat, bahkan menyerang sebanyak 84% siswa Indonesia sebagaimana tertulis dalam laporan Promoting Equality and Safety in School yang diterbitkan oleh Plan International. Komisi Perlindungan Anak Indonesia sendiri menegaskan adanya peningkatan kasus dari tahun ke tahun, terutama sejak tahun 2013 hingga 2015. Dalam sebuah jurnal, diperkirakan perilaku antisosial tersebut mempunyai kelaziman antara 10% hingga 60% dari seluruh remaja dunia. Artinya, terdapat 100 hingga 600 juta jiwa remaja dunia yang secara langsung terlibat dalam perilaku bullying.

Sebagai bagian dari masyarakat, kita sepakat bahwa secara moral perilaku tersebut tidak dapat dibenarkan. Perilaku yang mungkin terjadi karena adanya perbedaan kekuasaan ini berisiko menimbulkan berbagai konsekuensi negatif pada korban seperti depresi hingga putus sekolah. Akan tetapi, mengapa jumlah remaja yang terlibat bullying bisa sedemikian banyak bahkan mencapai lebih dari dua kali lipat penduduk Indonesia? Padahal kita secara logika para bullyes mengetahui bahwa perilaku mereka salah.

Banyak riset konvensional dan populer yang menganggap bullying sebagai hasil dari perkembangan manusia yang maladaptif –proses adaptasi yang salah. Bullying diyakini muncul dari ‘kesalahan’ yang terjadi selama proses perkembangan anak-anak dan remaja. Sebagai contoh, Erik Erikson, seorang pelopor teori perkembangan psikososial mengatakan bahwa remaja dalam masa perkembangannya mempunyai kebutuhan untuk meneguhkan identitasnya. Salah satu cara agar dirinya dipandang sebagai individu adalah dengan menunjukkan superioritasnya melalui bullying terhadap orang yang dianggap lebih lemah. Dengan cara ini, remaja juga tengah mempertahankan identitas dirinya dalam kelompok sebaya. Pendapat Erikson dan ilmuwan yang sepakat dengannya menjadi representasi dari kalangan yang menganggap bahwa pelaku bullying cenderung memiliki empati rendah.

Sayangnya, anggapan tersebut mendapatkan bantahan dari beberapa ilmuwan yang telah membuktikkan bahwa remaja yang melakukan bullying tidak terlihat memiliki social understanding buruk. Lebih lanjut, Profesor Volks dalam penelitiannya berani mengatakan bahwa lingkungan tidak lagi menjadi factor yang kuat dalam memunculkan perilaku maladaptif ini. Penjelasan ini menyisakan kekecewaan pada beberapa kalangan yang menganggap masa perkembangan remaja bukan penjelasan tunggal atau terbaik untuk menjelaskan perilaku bullying.

Lagipula, mengapa mereka tetap melakukan perbuatan tersebut jika mengetahui bahwa bullying adalah perilaku yang salah sebagaimana ‘konsensus’ yang terdapat di masyarakat? Mengacu pada data prevalensi global di atas, secara gamblang dapat dikatakan bahwa sebanyak 100 hingga 600 juta jiwa remaja di dunia memiliki ‘kesalahan’ selama masa perkembangan mereka. Tingginya angka tersebut mungkin dapat mengantarkan kita pada satu alternatif penjelasan baru melalui perspektif psikologi evolusioner, yaitu bahwa ‘bullying’ mungkin merupakan cara remaja untuk tetap adaptif dalam kehidupan.

Perspektif Psikologi Evolusioner

Psikologi evolusioner menawarkan sebuah hipotesis bahwa perilaku bullying bukan merupakan perilaku maladaptif bagi remaja. Sebaliknya, hal tersebut justru menjadi kekuatan baginya untuk tetap adaptif atau survive dalam kehidupan. Pandangan ini menganggap bullying sebagai proses mental yang tengah berevolusi dan merupakan respon terhadap tekanan evolusioner masa lalu.

Saat pertama kali muncul rasa penasaran terhadap ‘the origin of bullying’ ini saya menebaknya ketika sedang mengamati perilaku binatang. Kucing betina seorang tetangga kala itu  terlihat ‘mem-bully’ kucingnya yang jantan ketika sedang duduk di atas kursi dengan cara mengusirnya. Terlepas dari apakah perilaku itu termasuk kategori bullying atau tidak, saya tetap menganggapnya sebagai perilaku yang unik. Fenomena tersebut juga mengingatkan saya mengenai kejadian bullying yang biasanya saya lihat sebagai perwujudan dari superioritas yang dilakukan oleh pelaku kepada korban.

Perspektif ini menganggap adanya kecenderungan biologis dalam perilaku bullying remaja yang merupakan ‘warisan’ evolusi nenek moyang kita. Saat di mana sumber daya terbatas, anak-anak yang mampu mengamankan sumber daya itulah yang mampu bertahan hingga dewasa. Perilaku ini juga sangat umum terjadi pada binatang yang bahkan bersaing dengan saudaranya sendiri untuk mendapatkan perhatian orang tuanya agar dianggap lebih superior, dan dengan demikian akan diberikan sumber daya yang lebih.

Dalam hal ini, bullying sangat berkaitan erat dengan dominasi. Sementara kita, homo sapiens sapiens, merupakan hasil evolusi yang pernah ‘mendominasi’ hierarki kehidupan. Mengutip ungkapan Christopher Boehm: “any species that has a social dominance hierarchy, like apes or monkeys or wild dogs or lions, has bullies.” Boehm menambahkan bahwa bullying menguntungkan beberapa spesies untuk tetap adaptif dalam kehidupannya termasuk pada spesies kita (dalam beberapa hal). Menurutnya, “because you get better food or mating opportunities. In primates, studies have shown that the top bullies have more offspring and therefore their genes proliferate.”

Berdasarkan pandangan tersebut, semakin tinggi kita melakukan bullying kepada orang lain, semakin tinggi status kita dalam hierarki sosial, dan semakin banyak pula keturunan yang dapat dihasilkan. Ribuan tahun lalu prinsip ini mungkin bekerja secara tepat. Perilaku bullying telah tertanam dalam pikiran manusia sebagai salah satu teknik untuk tetap survive. Meskipun saat ini tampaknya bullying tidak lagi menjadi perilaku yang adaptif.

Salah satu masalah dalam evolusi menurut Alice G. Walton adalah bahwa evolusi tidak bekerja secara merata. Di satu sisi, perilaku akan usang karena adanya mekanisme seleksi alam yang membuat kita tetap adaptif dalam situasi baru. Di sisi lain, kita mengembangkan berbagai keterampilan lain yang membuat kita lebih survive seperti penalaran abstrak, bahasa, dan berbagai keterampilan sosial. Bullying adalah salah satu contoh baik dalam penjelasan ini.

Tentu saja pendapat ini menuai banyak kritik karena seolah-olah menjadi alasan dalam menjustifikasi perilaku bullying. Tetapi perlu diingat kembali bahwa hanya karena sesuatu terjadi secara natural, tidak lantas membuatnya dianggap sebagai hal baik. Ribuan tahun lalu, nenek moyang kita mem-bully manusia yang lebih lemah agar tetap bertahan dalam kehidupan. Mereka tidak pernah berpikir apakah perilaku mereka benar atau salah, mereka hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan.

Akhirnya saat ini kita dihadapkan pada polarisasi pendapat mengenai bullying: apakah bullying adalah ‘human nature’ ataukah ‘human nurture’? Perspektif mana yang seharusnya kita yakini? Dan apa solusi terbaik untuk mengatasi fenomena masa remaja ini?

Saya bukan sedang mewakili kalangan yang berpendapat bahwa bullying adalah teknik untuk beradaptasi sebagai hasil evolusi di masa lampau, alih-alih mendukung kelompok yang menganggap bullying sebagai kesalahan pada fase perkembangan remaja. Bagi saya pribadi, perspektif ini telah membawa secercah cahaya baru bagi perkembangan psychology of bullying. Dengan mengetahui mengapa/bagaimana/kapan sesuatu terjadi, kita menjadi lebih sadar terhadap masalah yang sebenarnya terjadi. Pada gilirannya, ketika perilaku bullying muncul dalam kehidupan seseorang, kita akan mampu mengindentifikasi dan memberikan respon yang tepat.

Menutup tulisan ini, laik kiranya saya meminjam ungkapan Richard Dawkins, seorang tokoh biologi evolusioner “because we are all born selfish, let us try to teach generosity and altruism.