Oleh: Sarah Shafira Sandy

“Aduuhh.. Itu anak ngungsi di rumahku aja, deh. Aku rela rumahku dipakai buat ngungsi 1 anak dari Suriah. Trus tetangga-tetangga juga gitu.”

Begitulah celoteh teman satu kos saya ketika mendapat berita seorang anak di Aleppo korban perang yang rekaman video penyelamatannya sangat mengharukan. Saya hanya tersenyum kecut mendengarnya. Pikiran saya melayang pada sesosok balita laki-laki berbaju merah, ia adalah keluarga pengungsi dari juga korban perang Suriah yang ditemukan di pinggir pantai Turki.

Sekelebat tontonan berita di TV mengenai anak perempuan yang diculik tentara ISIS juga menghampiri benak saya. Anak perempuan tersebut diberitakan diculik selama berbulan-bulan dan telah diselamatkan. Namun dari tayangan yang saya lihat, sama sekali tak terlihat sarat kegembiraan di wajahnya. Bahkan ketika ia akhirnya dipeluk oleh ibunda, tatapannya kosong. Membuat pikiran negatif saya benar-benar tak terkendali membayangkan apa yang diperbuat tentara-tentara ISIS terhadap anak perempuan sekecil itu. Pada puncak saat itu, saya memalingkan wajah saya. Isyarat tak kuat karena rasanya seperti hati diiris lalu ditambahi perasan jeruk nipis.

Di negara saya, Indonesia, anak-anak pun sedang mendapat sorotan lebih akibat channel-channel YouTube yang tayangannya tidak ramah anak namun ditonton juga oleh anak usia SD – SMP. Ah, miris sekali. Rasanya saya ingin berbuat sesuatu untuk anak-anak.

Bersyukur saat ini saya bergabung dalam sebuah organisasi yang sangat concern di bidang pendidikan. Di sini saya dan teman-teman lainnya menangani beberapa anak kurang mampu yang tinggal dan bersekolah di Jogjakarta agar mereka terus dapat bersekolah. Menyedihkan ketika mengetahui Jogjakarta yang didengungkan sebagi kota pelajar ternyata masih banyak anak-anaknya yang kesusahan bersekolah.

Bagi kami, seluruh anak berhak mendapatkan bantuan di bidang pendidikan, tidak harus siswa yang selalu mendapat rangking 1, tidak harus siswa yang aktif berbicara di kelas. Cukup dengan alasan bahwa sang anak mau sekolah, kami akan berusaha semaksimal mungkin agar kebutuhan pendidikan mereka tercukupi.

Kami sangat percaya bahwa setiap anak mempunyai kecerdasan yang berbeda-beda. Kecerdasan di bidang sains, kah, kesenian, atau pun atletik. Perkembangan setiap anak yang terbantu pendidikannya akan dipantau oleh seorang relawan yang kami sebut ‘kakak asuh’. Kakak asuh bertugas memerhatikan kondisi pendidikan dan kepribadian sang anak, lalu membuat komunikasi yang nyaman. Kakak asuh secara berkala akan mengunjungi adik asuhnya. Salah satu yang diharapkan dari tindakan tersebut adalah agar dapat memahami kecerdasan seperti apa yang dimiliki sang anak.

Setiap bulan kami juga mengadakan kegiatan bersifat non-akademis sebagai sarana rekreasi sambil belajar untuk mereka, seperti membuat sendal untuk memicu kreativitas, melakukan penanaman pohon untuk memupuk kecintaan pada alam. Juga mengunjungi sekolah anak-anak yang bernaung pada organisasi kami dan mengadakan kegiatan di sana. Hal ini bertujuan untuk menciptakan suasana belajar yang nyaman di mana pun bagi adik asuh, juga menjalin komunikasi dengan sekolah tempat mereka belajar.

Organisasi kemanusiaan tempat saya bergabung ini bernama CAMP Foundation. CAMP Foundation menjembatani orang-orang yang peduli pada pendidikan dan berkeingnan membantu yang kesulitan dalam pendidikan untuk tepat pada sasaran, yang mana dana pendidikan yaitu SPP bulanan anak bersumber dari orang tua asuh. Sedangkan untuk kegiatan non-akademis yang diselenggarakan, ditunjang oleh kegiatan-kegiatan seperti garage sale, penjualan merchandise, dan lainnya.

Credit: Tulisan ini pernah ditampilkan di http://www.kompasiana.com/sarashafira/alternatif-membantu-pendidikan-anak-jogjakarta_57f55d56917e61771b2f34a3