What a blind person is needs is not a teacher but another self.

– Helen Keller –

Mungkin kutipan di atas dapat mewakili kegiatan yang dilakukan oleh organisasi yang fokus pada isu-isu difabel netra, yaitu Braille’iant Yogyakarta. Pada mulanya Braille’iant merupakan follow up dari sebuah program bernama Program Kreativitas Mahasiswa Kegiatan Kemasyarakatan (PKM-M) yang dilaksanakan pada bulan Februari hingga April 2010 di BS Mardi Wuto dengan nama ENGLISH FORTUNET: Pembelajaran English Writing dan Conversation untuk siswa Tunanetra di Yogyakarta.

Pasca kegiatan tersebut, Mardi Wuto membuat program lanjutan di tahun 2011 yang bertajuk “Kursus Bahasa Inggris dan Komputer Bicara”. Kegiatan dilanjutkan sekaligus dengan tambahan mengajar program bahasa Inggris di Yayasan Kesejahteraan Tuna Netra Islam (YAKETUNIS). Pada saat melaksanakan kegiatan kursus bahasa Inggris di YAKETUNIS tahun 2013, nama Braille’iant tercetus. Braille’iant berasal dari kata Braille dan Brilliant yang berarti ‘cemerlang’.

Braille’iant adalah sebuah organisasi yang mempunyai visi mewujudkan masyarakat inklusi. Sesuai dengan visinya, Braille’iant fokus pada isu-isu yang menyangkut tentang difabel netra. Dalam kepengurusannya, Braille’iant memiliki empat divisi, yaitu divisi pendidikan, divisi minat bakat, divisi HRD, serta divisi kampanye-media

Braille’iant memiliki banyak program yang sudah dijalankan. Beberapa program rutin Braille’iant antara lain: kelas Bahasa Inggris di asrama YAKETUNIS, English for Specific Purposes (ESP) di Mardi Wuto, dan Layar Bisik (LASIK).

Kelas Bahasa Inggris di asrama YAKETUNIS dilaksanakan setiap hari Selasa malam. Saat ini, kelas tersebut sudah dimulai sejak bulan Maret dan akan berakhir pada bulan November mendatang. Peserta kelas Bahasa Inggris adalah teman-teman difabel netra yang tinggal di asrama YAKETUNIS, mulai dari yang berusia SD hingga kuliah. Pengajar kelas tersebut adalah relawan yang terpilih melalui proses open recruitment.

English for Specific Purposes (ESP) merupakan kelas Bahasa Inggris difabel netra untuk persiapan memasuki dunia kerja. Pengajar ESP juga merupakan relawan yang terpilih melalui proses open recruitment. Program rutin lainnya adalah Layar Bisik (LASIK). LASIK digagas sebagai bentuk kepedulian akan kebutuhan rekreasi untuk teman-teman difabel netra (difnet). Inti kegiatan ini adalah nonton bareng antara kawan-kawan difnet dan non difnet. Teman-teman non difnet bisa bergabung dalam kegiatan ini melalui oprec volunteer.

Lalu apa tugas volunteer? Tugasnya simpel yaitu mendampingi teman-teman difabel netra selama acara, juga membisiki adegan-adegan yang tidak ada dialognya. Biasanya, oprec volunteer dibuka tiap H-3 melalui berbagai jejaring medsos Braille’iant. Sejauh ini, LASIK rutin diselenggarakan tiap bulan dan bertempat di Movie Box Jogja. Banyak volunteer yang cukup terkesan usai mengikuti acara ini.

Selain kegiatan yang sudah disampaikan di atas, ada juga kegiatan non rutin seperti Difabel Goes To Perpus, workshop kepenyiaran, bincang komunitas, dan lainnya. Braille’iant juga melakukan jejaring dengan komunitas pun lembaga seperti SAPDA (Sentra Advokasi Perempuan Difabel dan Anak) Jogja, YouSure, BEM Universitas, dll. Beberapa event yang telah digelar seperti launching Perpustakaan Aksesibel, bedah dan bincang buku, focus group discussion, dll.

Jika CAMP Friends tertarik dengan kegiatan Braille’iant, jangan ragu untuk mengikuti mereka via akun media sosial mereka, ya. Let’s be inspired through CAMP Follow Friday!

Fanpage: https://www.facebook.com/BrailleJogja/

Twitter: https://twitter.com/BrailleJogja