Yogyakarta, Mei 2018 – Usia anak-anak merupakan usia di mana seorang individu mulai mengembangkan berbagai kemampuan dalam dirinya. Beberapa kemampuan yang dikembangkan anak meliputi kemampuan kognitif, afektif, motorik, dan sosial. Setiap anak akan mengembangkan kemampuan tersebut sesuai dengan usianya. Salah satu hal yang dapat dilakukan anak untuk mengasah kemampuan tersebut adalah dengan bermain.

Seiring dengan perkembangan teknologi dewasa ini, anak dapat menghabiskan waktunya dengan bermain gawai atau gadget. Dunia digital memang sudah menyediakan berbagai alternatif permainan yang sangat menarik bagi anak. Anak dapat memainkan permainan yang disukainya hanya dengan menggenggam gawainya. Namun, gaya bermain semacam itu ternyata tidak selamanya bermanfaat. Anak menjadi kurang mendapatkan kesempatan untuk mengolah motorik kasar dan kemampuan sosialnya. Akibatnya, perkembangan anak dapat terhambat atau bahkan dapat menimbulkan berbagai masalah lain.

Keprihatinan ini yang membuat Lawe, sebuah perusahaan sosial masyarakat di Jogja, membuat sebuah permainan tradisional berupa boneka. Lawe memproduksi boneka yang dinamakan Nokle-Nokle menggunakan kain tenun tradisional sebagai bahan dasarnya. Nama Nokle-Nokle diambil dari sebutan untuk anak perempuan, yaitu Nok, dan sebutan untuk anak laki-laki, yaitu Le. Boneka ini berkarakter binatang dan dapat dimainkan oleh anak peremuan maupun laki-laki. Kain tenun tradisional yang cerah menjadi ciri khas dan daya tarik dari boneka ini.

CAMP Foundation dibantu oleh Klapa Agency memberikan edukasi kepada Anak Asuh dan orangtua mengenai pentingnya melestarikan permainan tradisional seperti boneka di tengah kemajuan teknologi saat ini. Kami memiliki harapan yang besar bagi Anak Asuh dan orangtua untuk dapat melestarikan boneka sebagai salah satu media bermain dan belajar bagi anak. Selain itu, boneka juga dapat membantu anak mengembangkan kemampuan-kemampuan dasarnya yang tidak tersedia dalam permainan digital saat ini. Dengan adanya kegiatan ini, kami berharap semua pihak dapat lebih memahami setiap kebutuhan anak dalam menjalani proses perkembangan sesuai dengan usianya.

(Izzah Annisatur Rahma)